Time Out Efektif Buat Si Prasekolah Bag4

Time Out Efektif Buat Si Prasekolah Bag4Terakhir, berikan anak time in dengan jumlah yang seimbang pula, atau malah sedikit lebih ba nyak. Time in akan memperkuat perilaku positif dalam diri anak. Tunjukan bahwa kita benar selalu memerhatikan setiap perilaku anak, bukan hanya saat ia berperilaku negatif atau tidak menyenangkan.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Misalnya, saat anak akur bermain dengan kakaknya, Mama Papa bisa katakan, “Wah, Mama senang sekali melihat kalian bermain berdua!” Semakin banyak Mama Papa menguatkan perilaku positif si prasekolah, kabar baik nya, semakin sedikit kita perlu melakukan time out. Jagalah perkataan kita, jangan sampai kele pasan bicara dan memarahi atau membentak anak. Maka, pastikan kita juga sudah dalam kondisi tenang, tidak kesal atau marah.

Otak Laki-Laki Vs Otak Perempuan

Laki-laki dan perempuan secara alamiah berbeda dari sananya, terpengaruh oleh faktor hormonal dan perbedaan perkembangan bagian otaknya. Misalnya, corpus callosum (bagian yang menghubungkan kedua belah otak kiri dan kanan) pada perempuan lebih besar. Sementara itu, bagian otak yang terkait pembelajaran verbal berkembang lebih awal pada anak perempuan, sehingga perkembangan bahasa anak perempuan mulai lebih awal daripada anak laki-laki. Pada anak laki-laki, sering kita melihat ia bermain berantem-beranteman dengan sesama teman laki-lakinya. Ternyata, hal ini umum dialami anak lelaki di usia prasekolah dan menjadi salah satu cara anak lelaki “dekat” dengan teman lakilakinya.

Tawarkan Dua Pilihan

Si kecil ingin sepenuhnya mandiri dan bisa mengendalikan banyak hal begitu memasuki usia prasekolah. Ketika ia merengek meminta sesuatu dan kita tidak setuju, kita akan langsung berkata “tidak”. Misalnya, kakak memohon agar boleh makan cokelat sebelum jam makan siang, jawab dengan, “Bagaimana kalau buah anggur atau apel? Cokelat bisa Kakak makan nanti setelah makan siang.” Jika masih berkeras, terus tawarkan dua pilihan padanya, sampai ia akhirnya memilih salah satu di antaranya. Pada akhirnya, anak akan belajar untuk menerima bahwa tak semua keinginannya bisa dituruti saat itu juga dan kita pun tak serta merta mengatakan “tidak” pada semua yang ia mau. Jadi, kita dan anak sama-sama belajar bernegosiasi.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *