DAGELAN POLITIK DARI POHON BERINGIN

DAGELAN POLITIK DARI POHON BERINGIN

ALANGKAH lucunya partai ini. Ketika partai lain sibuk memperbaiki citra dengan membersihkan diri dari koruptor dan politikus bermasalah, Partai Golkar malah memilih Setya Novanto sebagai ketua umum dalam musyawarah nasional luar biasa di Bali pekan lalu. Setya Novanto adalah politikus yang diganduli seabrek kasus, dari pelanggaran etika saat menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat hingga dugaan korupsi proyek Pekan Olahraga Nasional 2012 di Riau.

Dia mencatut nama Presiden Joko Widodo dalam permufakatan jahat untuk memperpanjang kontrak karya PT Freeport Indonesia, yang dikenal dengan kasus ”Papa Minta Saham”. Ketika sidang etiknya berjalan, dia mundur sebagai Ketua DPR. Sebelumnya, dia juga menghadiri kampanye calon Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai ”sangat tidak patut”. Betapa ternodanya sosok Setya Novanto sudah terang-benderang. Tapi kader Partai Golkar tampaknya buta dan tuli, tetap memilih Setya. Proses pemilihannya pun tak kalah lucu.

Mulanya Setya bersaing ketat melawan Ade Komarudin. Kedua kubu berjuang keras untuk menarik dukungan dari para peserta. Putaran pertama usai, Setya meraih 277 suara dan Ade 173 suara. Suara keduanya masing-masing lebih dari 30 persen dari total 554 suara, dan memenuhi syarat untuk mengikuti putaran kedua. Tak ada angin tak ada badai, Ade tiba-tiba mengumumkan pengunduran dirinya. Alasannya soal usia. Ade lebih muda 10 tahun dibanding Setya, sehingga masih punya waktu untuk maju lain kali. Alasan yang aneh, juga ajaib. Kalau itu pertimbangannya, mengapa Ade tak mundur saja sejak awal dan membiarkan calon-calon lain yang lebih serius untuk bertarung? Di bawah beringin, Setya mendapat durian runtuh.

Ia otomatis terpilih sebagai ketua umum tanpa bertarung di putaran kedua. Ketoprak politik, begitulah kurang-lebih. Tapi, yang jauh dari lucu, politik uang konon bermain. Ada isu, setiap satu dewan pengurus daerah Golkar mendapat Rp 3 miliar jika mau menyebut nama Setya Novanto pada pemandangan umum—sesuatu yang dilarang menurut tata tertib. Komite etik partai turun tangan dengan melayangkan 23 surat teguran kepada orang yang diduga melanggar. Musyawarah yang acakadul menyiratkan kebangkrutan etika politik partai berlambang pohon beringin ini.

Proses pemilihan ketua umum sekadar acara main-main yang mudah dibengkakbengkokkan para peserta, bukan sebuah proses demokrasi yang bermartabat untuk menentukan strategi partai ke depan. Partai ini mengabaikan kecerdasan rakyat, yang akan menjadi pemilihnya pada pemilihan umum mendatang. Rakyat sudah menyaksikan sandiwara tak lucu.

Dengan tontonan dagelan politik murahan itu, sulit rasanya berharap rakyat masih mencoblos batang beringin. Seakan-akan menambah kelucuan, pemerintah ikut pula naik ke panggung ketoprak politik ini dengan menyatakan dukungan atas terpilihnya Setya Novanto. Istana bahkan memberi sinyal untuk menyambut Partai Golkar masuk ke partai koalisi pemerintah.

Istana semestinya tidak bersikap pragmatis dengan hanya menimbang penguatan koalisi, tapi perlu melihat apakah dukungan ini akan menyehatkan iklim politik dalam negeri atau tidak. Pemerintah merupakan pihak yang paling bertanggung jawab menjaga agar etika politik tegak dan demokrasi berjalan dengan benar. Ketika politik hanya menjadi dagelan, sudah dipastikan demokrasi negeri ini akan amburadul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *