Category Archives: Parenting

Cari Tahu Tentang Epilepsi

Karena saya tidak tahu apaapa mengenai epilepsi, se tiap kali kontrol ke dokter sa raf, saya selalu banyak ber tanya mengenai epilepsi. Sam pai akhirnya saya masuk men jadi anggota komunitas penyandang epilepsi. Nah, dari sini saya banyak mendapat ilmu tentang epilepsi serta tip membesarkan anak epilepsi dengan baik. Saya pun baru tahu kalau Raisa harus banyak istirahat berkualitas, minum obat teratur sesuai dosis, dan rajin kontrol ke dokter.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Juga, dilarang lelah, lapar, kedinginan, kepanasan, dan stres. Saya pun harus membuat Raisa mau bercerita apa yang dialaminya selama di luar pengawasan orangtua. Dari semua tip itu, yang tersulit adalah membuat Raisa tidur berkualitas dan tidak kelelahan. Yaaa… mau bagaimana? Anak usia ini kan sangat aktif, memiliki energi yang banyak untuk bermain, dan cuek dengan kondisinya.

Tapi, karena itu satu-satunya cara membuatnya tidak kambuh (timbul bangkitan), saya dan suami tanpa bosan, lelah, dan marah, mengingatkan hal tersebut pada Raisa. Saya juga selalu mengikuti saran dokter untuk mengajak Raisa beraktivitas di pagi hari di luar rumah agar dapat menghirup udara segar.

Bebas Kejang

Alhamdulillah, setelah rutin mengikuti anjuran dokter, minum obat selama tiga tahun tanpa putus, dan terus diobservasi, sekarang Raisa sudah terbebas dari kejang. Karena kondisinya semakin membaik, dokter be rani memutuskan untuk menghentikan terapi obat bagi Raisa. Meski begitu, Raisa tetap harus dalam pengawasan dokter.

Setiap tahun Raisa harus menjalani pemeriksaan EEG. Alhamdulilah, hasil EEG Raisa pada Desember 2014, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Raisa pun bisa kontrol dua tahun lagi, dengan catatan, jika dalam periode itu ada kejang ataupun gejala lain, harus segera diobservasi ulang. Maka itu, Raisa tidak pernah lepas dari pengawasan dan perhatian kami.

Apalagi, epilepsi bisa kambuh kapan dan di mana saja. Sekarang, walau epilepsinya tidak ada bangkitan lagi, namun dampak dari kejangnya waktu itu, Raisa mengalami kemunduran dalam tumbuh kem bangnya. Kemampuan bica ranya mendadak hilang dan dia menjadi hiperaktif, sehingga Raisa harus menjalani terapi tumbuh kembang anak. Kami berharap, dengan terapi tersebut, Raisa akan mengalami kemajuan.

Bed Rest Tidak Harus Stres

Mendapat ”perintah” untuk bed rest dari dokter malah bisa membuat mamil khawatir. Yuk, sikapi hal ini dengan bijak agar kehamilan mama tetap sehat hingga waktu bersalin tiba. Bed rest adalah istilah untuk beristirahat. Dengan beristirahat lebih banyak, diharapkan kondisi tubuh mamil semakin kuat sehingga pertumbuhan janin di dalam rahim pun berlangsung optimal. Kita tahu, di trimester 3, kebanyakan mamil mulai merasa kewalahan dengan berbagai perubahan pada fisiknya.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Rahim yang semakin membesar membuat mamil kian mudah lelah, sulit tidur, dan tidak nyaman dalam menjalankan aktivitas seharihari. Tak jarang, mamil menjadi stres karena keluhan yang muncul semakin banyak dan tidak bisa dihilangkan. Mamil yang stres dan kelelahan akan kehabisan energi dan ini berisi ko mengalami komplikasi pada kehamilannya. Tekanan darah bisa me ningkat dan daya tahan tubuh me nurun, sehingga mamil rentan terserang infeksi atau penyakit yang juga dapat memengaruhi kondisi kehamilannya.

Umumnya, dokter menganjurkan mamil bedrest dengan tiga tujuan. Pertama, untuk melancarkan aliran darah sehingga asupan oksigen dan nutrisi ke janin berlangsung optimal. Kedua, mengurangi tekanan pada janin se hingga meminimalkan risiko timbulnya perdarahan dan kontraksi dini. Terakhir, memperbaiki fungsi kerja organ-organ pada tubuh mamil. Misalnya, mendorong jantung bekerja dengan baik sehingga mampu menurunkan tekanan darah yang tinggi. Jadi, patuhi anjuran dokter untuk bed rest ya, Ma.

Ini Alasan Harus Bed Rest

Dokter akan menganjurkan bed rest bila berdasarkan pemeriksaan terakhir ditemukan kondisi-kondisi berikut: ‘ Memiliki risiko melahirkan prematur. Kelahiran prematur terjadi saat usia kandungan belum mencapai 37 minggu. Beberapa hal yang memperbesar peluang mamil melahirkan prematur yaitu: • pernah melahirkan prematur; • sedang mengandung bayi kembar; • timbul masalah pada rahim serta plasenta (plasenta previa atau solusio plasenta); • timbul infeksi pada saluran kemih, sistem reproduksi atau cairan ketuban; • mengidap penyakit tertentu semasa hamil (diabetes, anemia, gangguan ginjal, tekanan darah tinggi); • gaya hidup buruk semasa maupun sebelum hamil (merokok, mengonsumsi minuman beralkohol); • dan memiliki riwayat keguguran.

Sumber : pascal-edu.com