Bed Rest Tidak Harus Stres

Mendapat ”perintah” untuk bed rest dari dokter malah bisa membuat mamil khawatir. Yuk, sikapi hal ini dengan bijak agar kehamilan mama tetap sehat hingga waktu bersalin tiba. Bed rest adalah istilah untuk beristirahat. Dengan beristirahat lebih banyak, diharapkan kondisi tubuh mamil semakin kuat sehingga pertumbuhan janin di dalam rahim pun berlangsung optimal. Kita tahu, di trimester 3, kebanyakan mamil mulai merasa kewalahan dengan berbagai perubahan pada fisiknya.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Rahim yang semakin membesar membuat mamil kian mudah lelah, sulit tidur, dan tidak nyaman dalam menjalankan aktivitas seharihari. Tak jarang, mamil menjadi stres karena keluhan yang muncul semakin banyak dan tidak bisa dihilangkan. Mamil yang stres dan kelelahan akan kehabisan energi dan ini berisi ko mengalami komplikasi pada kehamilannya. Tekanan darah bisa me ningkat dan daya tahan tubuh me nurun, sehingga mamil rentan terserang infeksi atau penyakit yang juga dapat memengaruhi kondisi kehamilannya.

Umumnya, dokter menganjurkan mamil bedrest dengan tiga tujuan. Pertama, untuk melancarkan aliran darah sehingga asupan oksigen dan nutrisi ke janin berlangsung optimal. Kedua, mengurangi tekanan pada janin se hingga meminimalkan risiko timbulnya perdarahan dan kontraksi dini. Terakhir, memperbaiki fungsi kerja organ-organ pada tubuh mamil. Misalnya, mendorong jantung bekerja dengan baik sehingga mampu menurunkan tekanan darah yang tinggi. Jadi, patuhi anjuran dokter untuk bed rest ya, Ma.

Ini Alasan Harus Bed Rest

Dokter akan menganjurkan bed rest bila berdasarkan pemeriksaan terakhir ditemukan kondisi-kondisi berikut: ‘ Memiliki risiko melahirkan prematur. Kelahiran prematur terjadi saat usia kandungan belum mencapai 37 minggu. Beberapa hal yang memperbesar peluang mamil melahirkan prematur yaitu: • pernah melahirkan prematur; • sedang mengandung bayi kembar; • timbul masalah pada rahim serta plasenta (plasenta previa atau solusio plasenta); • timbul infeksi pada saluran kemih, sistem reproduksi atau cairan ketuban; • mengidap penyakit tertentu semasa hamil (diabetes, anemia, gangguan ginjal, tekanan darah tinggi); • gaya hidup buruk semasa maupun sebelum hamil (merokok, mengonsumsi minuman beralkohol); • dan memiliki riwayat keguguran.

Sumber : pascal-edu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *